ASPEK PENTING YANG MENDASARI DIBERLAKUKANNYA KURIKULUM 2013

Daftar Isi [Tampilkan]

ASPEK PENTING YANG MENDASARI DIBERLAKUKANNYA KURIKULUM 2013 - Hallo sahabat BlackandGold, Pada Artikel yang anda baca kali ini dengan judul ASPEK PENTING YANG MENDASARI DIBERLAKUKANNYA KURIKULUM 2013, kami telah mempersiapkan artikel ini dengan baik untuk anda baca dan ambil informasi didalamnya. mudah-mudahan isi postingan Artikel TentangBahan Belajar, Artikel TentangKurikulum, Artikel TentangManajemen Pendidikan, Artikel TentangPendidikan Non Formal, yang kami tulis ini dapat anda dipahami. baiklah, selamat membaca.



#: ASPEK PENTING YANG MENDASARI DIBERLAKUKANNYA KURIKULUM 2013
#: ASPEK PENTING YANG MENDASARI DIBERLAKUKANNYA KURIKULUM 2013

Baca juga

ASPEK PENTING YANG MENDASARI DIBERLAKUKANNYA KURIKULUM 2013

Visiuniversal----Para guru, pendidik dan tenaga kependidikan-----Titik berat kurikulum 2013 bertujuan untuk mendorong peserta didik atau siswa agar mampu lebih baik dalam melakukan observasi, bertanya, bernalar, dan mengomunikasikan (mempresentasikan) yang mereka peroleh atau mereka ketahui setelah menerima materi pembelajaran di sekolah. Objek yang menjadi pembelajaran dalam penataan dan penyempurnaan kurikulum 2013 ini lebih menekankan pada fenomena alam, fenomena sosial, fenomena seni, dan fenomena budaya. 

PENDAHULUAN

Hal yang sangat menarik untuk dicermati bahwa pada awal abad ke-21 ini, hanya dalam rentang waktu kurang dari 10 tahun, pemerintah Indonesia telah melahirkan sedikitnya dua kurikulum. Pertama, Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK) tahun 2004, kedua Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) tahun 2006. Artinya hanya selang dua tahun saja, kurikulum yang menjadi pedoman penyelenggaraan kegiatan pembelajaran untuk mencapai tujuan pendidikan telah berubah. Pada abad 20-an kurikulum berganti menyesuaikan perkembangan zaman, biasanya setiap rentang waktu sepuluh tahun. Namun pada abad ke-21 seperti telah disebutkan, belum genap lima tahun pemerintah sudah melahirkan dua kurikulum. Tujuh tahun kemudian pemerintah menggagas kurikulum baru, yang kini dinamakan kurikulum 2013.

Pemerintah menetapkan bahwa penerapan kurikulum 2013 akan dimulai pada awal tahun ajaran 2013-2014 yang diberlakukan secara bertahap pada tingkat SD, SMP, dan SMA/SMK. Pada tahun pertama akan diterapkan untuk murid kelas satu dan kelas empat SD serta kelas satu SMP dan SMA. Selanjutnya, pada tahun kedua akan diberlakukan kepada kelas dua dan kelas lima SD serta kelas dua SMP dan SMA. Kemudian pada tahun ketiga akan diberilakukan kepada kelas empat dan kelas enam SD serta kelas tiga SMP dan SMA.

Inti dari kurikulum 2013 adalah pada upaya penyederhanaan, dan tematik-integratif. Kurikulum 2013 disiapkan untuk mencetak generasi yang siap dalam menghadapi masa depan. Oleh karena itu, kurikulum disusun untuk mengantisipasi perkembangan masa depan.

Titik berat kurikulum 2013 bertujuan untuk mendorong peserta didik atau siswa agar mampu lebih baik dalam melakukan observasi, bertanya, bernalar, dan mengomunikasikan (mempresentasikan) yang mereka peroleh atau mereka ketahui setelah menerima materi pembelajaran di sekolah. Objek yang menjadi pembelajaran dalam penataan dan penyempurnaan kurikulum 2013 ini lebih menekankan pada fenomena alam, fenomena sosial, fenomena seni, dan fenomena budaya. Melalui pendekatan tersebut siswa diharapkan untuk memiliki kompetensi sikap, keterampilan, dan pengetahuan jauh lebih baik. Mereka akan lebih kreatif, inovatif, dan lebih produktif, sehingga nantinya mereka bisa sukses dalam menghadapi berbagai persoalan dan tantangan di zamannya, memasuki masa depan yang lebih baik. Atau dengan kata lain, tema pengembangan kurikulum 2013 adalah agar dapat menghasilkan insan Indonesia yang produktif, kreatif, inovatif, dan afektif melalui penguatan sikap (tahu mengapa), keterampilan (tahu bagaimana), dan pengetahuan (tahu apa) secara terintegrasi.

Tujuan penelitian ini adalah untuk mendapatkan gambaran tentang hal-hal yang mendasari pemerintah, dalam hal ini Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, menggagas penerapan kurikulum 2013 untuk jenjang pendidikan dasar dan pendidikan menengah. Dari hasil penelitian diharapkan masyarakat dapat memahami alasan Indonesia memerlukan kurikulum baru lagi yang dikenal dengan kurikulum 2013.



PEMBAHASAN 

Sejatinya, kurikulum adalah seperangkat rencana pembelajaran yang mencakup tujuan, isi, bahan, dan cara atau metode pembelajaran yang menjadi pedoman pelaksanaan dalam suatu program pendidikan. Sementara itu, perubahan kurikulum itu merupakan sesuatu yang niscaya, pasti, dan kebutuhan yang terus berkembang. Kurikulum harus menjadi wahana yang efektif untuk mewujudkan kondisi yang idealisasi dengan kondisi kekinian. 

Kurikulum tidak dapat dipatok harus berlaku 10 tahun atau 15 tahun. Kurikulum bersifat dinamis dan terus berkembang, dan wajib mengikuti perubahan-perubahan yang terjadi di lingkungannya. Persoalan kurikulum itu dipakai untuk waktu tertentu, karena masih dianggap relevan dengan tujuan pendidikan yang ingin dicapai. Pengembangan kurikulum harus mempertimbangkan aspek teoretis berkembangnya ilmu pengetahuan dan aspek empiris implementasi dan manajemen kurikulum. Selain itu, persepsi masyarakat terhadap output pendidikan juga harus diakomodasi secara memadai. 


Landasan Pengembangan Kurikulum

Kurikulum dapat dikelompokkan dalam dua pengertian, yaitu dalam arti luas dan dalam arti sempit. Dalam arti luas, kurikulum adalah konsep yang merujuk pada sistem pendidikan yang berlaku. Sedangkan dalam arti sempit, kurikulum dapat berarti kesatuan beberapa mata pelajaran, satu mata pelajaran, kelompok rumpun keilmuan, suatu program rencana pembelajaran, dan sebagainya, yang menjelaskan tentang rencana rangkaian kegiatan pembelajaran. 


Penyusunan kurikulum 2013 didasarkan pada tiga aspek yang merupakan landasan pengembangan kurikulum, yaitu aspek filosofis, aspek yuridis, dan aspek konseptual. Aspek filosofis memaknai bahwa pendidikan berbasis pada nilai-nilai luhur, nilai akademik, serta kebutuhan peserta didik dan masyarakat. Selain itu, kurikulum berorientasi pada pengembangan kompetensi. Aspek konseptual berarti kurikulum memiliki relevansi, modelnya berbasis kompetensi, tidak hanya merupakan sekadar dokumen, dan proses pembelajarannya mencakup aktivitas belajar serta output danoutcome belajar, serta kesesuaian teknik penilaian dengan kompetensi penjenjangan penilaian. Aspek yuridis terkait dengan RPJMN 2010-2014 Sektor Pendidikan, dan Inpres nomor 1 tahun 2010.


Selain dari hal yang telah dikemukakan, ada beberapa hal lain yang mendasari pengembangan kurikulum 2013. Tantangan masa depan yang harus dihadapi dan tidak bisa dihindari, kemampuan atau kompetensi yang harus dimiliki siswa pada masa depan, fenomena negatif yang akhir-akhir ini terus mengemuka, dan persepsi masyarakat terhadap keberadaan kurikulum yang diberlalukan saat ini merupakan hal-hal yang menjadi pertimbangan disusunnya kurikulum 2013 seperti yang digambarkan pada Gambar 1 sebagai berikut.

Gambar 1 Alasan Pengembangan Kurikulum

Gambar 1 Alasan Pengembangan Kurikulum

(Sumber: Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, 2012)



Latar Belakang Penyusunan Kurikulum 2013 

Penyusunan kurikulum 2013 pada dasarnya menitikberatkan pada penyederhanaan, tematikintegratif, dan mengacu pada kurikulum 2006. Beberapa permasalahan di antaranya: (i) konten kurikulum yang masih terlalu padat, ini ditunjukkan dengan banyaknya mata pelajaran dan banyak materi yang keluasan dan tingkat kesukarannya melampaui tingkat perkembangan usia anak; (ii) belum sepenuhnya berbasis kompetensi sesuai dengan tuntutan fungsi dan tujuan pendidikan nasional; (iii) kompetensi belum menggambarkan secara holistik domain sikap, keterampilan, dan pengetahuan; beberapa kompetensi yang dibutuhkan sesuai dengan perkembangan kebutuhan (misalnya pendidikan karakter, metodologi pembelajaran aktif, keseimbangan soft skills dan hard skills, kewirausahaan) belum terakomodasi di dalam kurikulum; (iv) belum peka dan tanggap terhadap perubahan sosial yang terjadi pada tingkat lokal, nasional, maupun global; (v) standar proses pembelajaran belum menggambarkan urutan pembelajaran yang rinci sehingga membuka peluang penafsiran yang beraneka ragam dan berujung pada pembelajaran yang berpusat pada guru; (vi) standar penilaian belum mengarahkan pada penilaian berbasis kompetensi (proses dan hasil) dan belum secara tegas menuntut adanya remediasi secara berkala; dan (vii) dengan KTSP memerlukan dokumen kurikulum yang lebih rinci agar tidak menimbulkan multitafsir.

Dengan demikian yang mendasari dikembangkannya kurikulum 2013, selain untuk memberi jawaban terhadap beberapa permasalahan yang melekat pada kurikulum 2006, adalah kurikulum 2013 juga bertujuan untuk mendorong peserta didik atau siswa mampu lebih baik dalam melakukan observasi, bertanya, bernalar, dan mengomunikasikan (mempresentasikan) yang diperoleh atau diketahui setelah siswa menerima materi pembelajaran. Selain itu, menurut Mendikbud bahwasanya pada dasarnya zaman selalu berubah. Oleh karena itu kurikulum pendidikan harus pula disesuaikan dengan perubahan dan tuntutan zaman. Saat ini yang dituntut adalah kurikulum yang lebih berbasis pada penguatan penalaran, bukan lagi hapalan semata. Gambar 2 menunjukkan tentang kesenjangan kurikulum yang ada pada konsep kurikulum saat ini dengan konsep ideal yang diinginkan. Kurikulum 2013 yang dikembangkan saat ini mengarah ke konsep ideal dimaksud.

Gambar 2 Identifikasi Kesenjangan Kurikulum

Gambar 2 Identifikasi Kesenjangan Kurikulum

(Sumber: Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, 2012)


Perubahan Elemen Kurikulum 2013 dan Dampaknya

Pada pengembangan kurikulum 2013 ini ada beberapa elemen kurikulum yang berubah. Empat standar dalam kurikulum yaitu standar kompetensi lulusan, proses, isi, dan standar penilaian mengalami perubahan. Artinya standar kompetensinya berubah, proses dan materinya juga ada yang berubah. 

Misalnya perubahan dalam pendekatan yang digunakan dari sisi proses, kurikulum 2013 menginginkan agar anak menjadi kreatif. Terkait dengan kreativitas ini, beberapa riset menunjukkan bahwa kreativitas bisa dibentuk melalui proses pendidikan. Ada dua per tiga kesempatan untuk membangun kreativitas melalui pendidikan. Sepertiganya melalui faktor genetik atau bawaan. Hal ini berbeda dengan intelegensia yang dua per tiganya karena faktor bawaan, dan sepertiga melalui pendidikan. 

Idealnya, seseorang yang intelegensianya tinggi, maka kreativitasnya juga tinggi. Akan tetapi jika intelegensia bawaan rendah, dalam kasus ini, space creativity dapat dimainkan. Artinya, meskipun intelegensia pas-pasan, kreativitas dapat dimanfaatkan. 

Berbagai pendekatan dapat membangun kreativitas tersebut. Caranya, mulai kecil siswa dibiasakan untuk memanfaatkan inderanya untuk melihat fenomena. Artinya mereka diajak untuk mengamati, bukan bermain di wilayah kosong. Mereka perlu masuk ke wilayah riil sehingga setiap kejadian terekam. Misalnya, jika anak-anak ingin mengetahui yang ada di bulan, mereka diajak melihat melalui teropong. Atau jika mereka ingin mengetahui bentuk sel, mikroskop dapat dipakai. Setelah itu mereka bisa mengerti apa itu sel.

Adapun objek pembelajaran yang digunakan adalah fenomena alam, fenomena sosial, dan fenomena budaya. Belajar apa saja, objeknya pasti tiga hal tersebut. Sedangkan pendekatan yang digunakan adalah berupa tematik-integratif. 

Mengamati saja belum cukup. Siswa harus dikembangkan kemampuannya untuk bertanya. Karena dari bertanya itulah muncul rasa penasaran intelektual. Itu saja belum cukup. Siswa perlu diajari untuk berkemampuan mempresentasikan, mengomunikasikan sesuatu, baik tertulis ataupun lisan. Oleh karena itu mereka akan diajari cara memformulasikan persoalan. 

Melihat keadaan demikian, struktur mata pelajaran pun berubah. Jika dahulu mata pelajaran terlebih dahulu ditetapkan kemudian kompetensinya, sekarang diubah, yaitu kompetensinya terlebih dahulu ditetapkan, kemudian menyusul mata pelajarannya. Selain itu, hal lain yang harus diakui bahwa dalam perkembangan kehidupan dan ilmu pengetahuan pada abad ke-21 telah terjadi pergeseran baik ciri maupun model pembelajaran. Hal-hal inilah yang akan diantisipasi pada kurikulum 2013. Gambar 3 mengilustrasikan pergeseran paradigma belajar abad ke-21 dengan berdasarkan ciri abad ke-21 dan model pembelajaran yang harus dilakukan.

Adanya perubahan terhadap beberapa elemen dalam kurikulum 2013 diharapkan membawa dampak positif pada beberapa entitas. Sedikitnya ada lima entitas yang terkait dengan pendidikan, yaitu peserta didik, pendidik dan tenaga kependidikan, manajemen satuan pendidikan, negara dan bangsa, serta masyarakat umum, yang diharapkan mengalami perubahan. Gambar 4 menggambarkan dampak pengembangan kurikulum 2013 yang diharapkan membawa perubahan pada masing-masing entitas. 


Gambar 4 Dampak Pengembangan Kurikulum 2013

(Sumber: Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, 2012)


Posisi Kurikulum 2013

Pengembangan kurikulum 2013 didesain agar terintegrasi sebagaimana tema yang diusungnya. Untuk mencapai tema itu, dibutuhkan proses pembelajaran yang mendukung kreativitas. Itu sebabnya perlu dirumuskan kurikulum yang mengedepankan pengalaman personal melalui proses mengamati, menanya, menalar, dan mencoba (observation-based learning) untuk meningkatkan kreativitas peserta didik seperti yang telah diuraikan. Di samping itu, perlu pembiasaan bagi peserta didik untuk bekerja dalam jejaringan melalui collaborative learning.

Berbicara tentang kurikulum, berbicara tentang empat hal, yaitu terkait dengan standar kompetensi lulusan, standar isi, standar proses, dan standar penilaian. Dengan demikian, yang pertama digarap dalam penyusunan kurikulum adalah kompentensi yang ingin dicapai. Untuk ke situ, hal apa yang harus dilakukan. Setelah kompetensi ditentukan, prosesnya harus ditentukan. Proses ini berarti metodologi, atau pendekatan. Setelah itu cara mengevaluasinya harus ada, apakah sudah tercapai atau belum. Jadi perlu standar penilaian. 

Hal yang perlu ditekankan adalah kompetensi. Ada tiga ranah atau domain terkait hal ini yaitu dari sisi sikap atau attitude, sisi keterampilan atau skill, dan sisi pengetahuan atau knowledge. Jika ingin mencapai kompetensi tersebut, ketiga-tiganya harus masuk dalam kurikulum. Gambar 5 menunjukkan posisi kurikulum 2013 yang terintegrasi sesuai dengan tema pada pengembangan kurikulum 2013. 


Gambar 5 Posisi Kurikulum 2013

(Sumber: Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, 2012) 


Uji Publik Rencana Penerapan Kurikulum 2013

Uji publik rencana perubahan kurikulum yang digagas oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan merupakan ajang untuk curah pendapat untuk perbaikan. Uji publik telah mendapat berbagai masukan dan pandangan dari banyak kalangan. Ada pertanyaan yang muncul bernada khawatir dalam uji publik ini, yaitu terkait tentang persiapan yang telah dilakukan Pemerintah, dalam hal ini Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, dan apakah sedemikian mendesaknya sehingga tahun pelajaran 2013 mendatang kurikulum itu sudah harus diterapkan. 

Menjawab kekhawatiran itu, sedikitnya ada tiga persiapan yang sudah masuk agenda Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan untuk implementasi kurikulum 2013. Pertama, berkaitan dengan buku pegangan dan buku murid. Hal ini penting jika kurikulum mengalami perbaikan, sementara bukunya tetap, bisa jadi kurikulum hanya sebagai “macan kertas”. Pemerintah bertekad untuk menyiapkan buku induk untuk pegangan guru dan murid, yang tentu saja dua buku itu berbeda konten satu dengan lainnya. Kedua adalah pelatihan guru. Karena implementasi kurikulum dilakukan secara bertahap, pelatihan kepada guru pun dilakukan bertahap. Jika implementasi dimulai untuk kelas satu dan empat di jenjang SD, kelas tujuh di SMP, serta kelas sepuluh di SMA/SMK, tentu guru yang diikutkan dalam pelatihan pun, berkisar antara 400 sampai 500 ribuan. Ketiga adalah tata kelola. Kementerian sudah pula memikirkan terhadap tata kelola di tingkat satuan pendidikan karena tata kelola dengan kurikulum 2013 pun akan berubah. Sebagai misal, administrasi buku raport. Tentu karena empat standar dalam kurikulum 2013 mengalami perubahan, maka buku raport pun harus berubah. 

Berkenaan dengan hasil uji publik terkait rencana perubahan kurikulum yang akan diterapkan mulai tahun ajaran 2013, pada intinya terdapat dua kelompok menyikapi rencana tersebut, yaitu kelompok yang menolak dan kelompok yang mendukung. Kelompok yang menolak menyarankan agar rencana perubahan kurikulum ditunda dengan alasan bahwa kurikulum tingkat satuan pendidikan yang sekarang berlaku masih relevan dan belum dilaksanakan sepenuhnya. Selain itu mereka juga berargumentasi bahwa perubahan kurikulum tidak didasarkan kajian yang matang dan hanya menjadi ajang mengeruk keuntungan. Lebih ekstrem lagi, rencana perubahan kurikulum dianggap sangat bermuatan politis dan liberalisasi pendidikan yang pada akhirnya melenceng jauh dari tujuan pendidikan. 

Contohnya, penggabungan mata pelajaran IPA dan IPS di jenjang sekolah dasar, yang dikhawatirkan menghasilkan siswa yang tidak peka terhadap perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Siswa akan tertinggal dalam penguasaan ilmu pengetahuan yang menjadi dasar berkembangnya teknologi. Di sisi lain kelemahan terhadap basis pengetahuan dan teknologi menjadi  penghambat dalam penguasaan bidang lainnya. Kekhawatiran ini akan berlanjut pada asumsi ketika siswa Indonesia tertinggal dalam pengetahuan yang menjadi fondasi kemajuan teknologi, maka bangsa Indonesia akan menjadi pasar bagi produk-produk teknologi dari luar negeri.

Sementara itu, kelompok yang mendukung melihat bahwa yang melandasi rencana diterapkannya kurikulum baru antara lain adanya kesenjangan kondisi riil saat ini dengan kondisi ideal dalam berbagai dimensi. Keterpautan antara tujuan pendidikan dengan isi mata pelajaran dan kompetensi yang diharapkan juga belum begitu kental. Selama ini pembelajaran masih belum sepenuhnya berpusat pada siswa dan pembelajaran belum berkembang pada kebermaknaan prosesnya. Model evaluasi juga belum sepenuhnya mengakomodasi kualitas proses dan masih menekankan pada hasil. Untuk itu, kurikulum 2013 dinilai dapat menghilangkan kesenjangan tersebut. 



KESIMPULAN 

Kurikulum bukanlah sesuatu yang tidak dapat diubah-ubah. Kurikulum adalah instrumen (alat) untuk mencapai tujuan pendidikan. Sebagai alat, penggunaannya sangat tergantung pada sumber daya manusia. Yang lebih penting lagi, tujuan universal pendidikan adalah mewujudkan manusia seutuhnya yang meningkatkan harkat dan martabatnya. Pendidikan bukan sekadar meningkatkan kualitas sumber daya manusia untuk memenuhi kebutuhan tenaga-tenaga terampil untuk pembangunan fisik, tetapi lebih kepada pembentukan sikap mental dan karakter yang menjadi fondasi bagi kehidupan siswa di masa depan. 

Tantangan masa depan akan makin canggih, kompleks, dan menuntut respons perubahan. Respons berupa perubahan kurikulum merupakan langkah strategis yang dapat ditempuh pemerintah sebagai pengemban amanat undang undang. Demi keberhasilan pelaksanaan kurikulum 2013, hal mendasar yang perlu dilakukan oleh pemangku kepentingan di bidang pendidikan, terutama di tingkat operasional adalah mempersiapkan diri terhadap pemberlakuan kebijakan dengan sikap terbuka dan mengikuti akselerasi yang diperlukan. Ketika kurikulum baru nanti diterapkan, para guru harus bisa Nmempersiapkan diri dengan model operasional yang baru. Manajemen sekolah juga harus menyiapkan berbagai perangkat dan sistem untuk itu. Dengan kata lain, sumber daya manusia pengelola pendidikan harus mengikuti pelatihan, pembinaan, dan workshop untuk kurikulum baru. Yang tidak kalah penting, pemerintah juga perlu mensosialisasikan perubahan kurikulum itu secara sistematis dan terus menerus kepada semua pemangku kepentingan sampai tingkat terbawah. Masyarakat juga memerlukan informasi secara memadai terkait rencana diterapkannya kurikulum 2013. 

Intinya jangan sekali-kali persoalan implementasi kurikulum dihadapkan pada stigma persoalan yang kemungkinan akan menjerat untuk tidak mau melakukan perubahan. Padahal sepakat, perubahan itu sesuatu yang niscaya harus dihadapi mana kala ingin terus maju dan berkembang. Bukankah melalui perubahan kurikulum ini, sesungguhnya masa depan anak didik “dibeli” dengan harga sekarang. Sebagai sesuatu yang pasti, maka perubahan akan menghadapi tantangan dari individu maupun kelompok yang belum melihat visi jauh ke depan atau masih berkutat pada kondisi kekinian tanpa langkah strategis dan taktis. 


DAFTAR PUSTAKA


Departemen Pendidikan Nasional. (2003). Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang 
       Sistem Pendidikan Nasional. 

Ihsan, A. (2003). Kamus Pelajar. Semarang: Sumber Ilmu. 

Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. (2012). Materi Sosialisasi Kurikulum 2013

Nazir, M. (2003). Metode Penelitian. Jakarta: Ghalia Indonesia. 

Pusat Kurikulum Kemendikbud. Uji publik kurikulum 2013. Diakses 17 Januari 2013
        dari http://www.kemendiknas.go.id. 

Santoso, B. (2013). Keberhasilan Kurikulum 2013. Diakses 16 Januari 2013
        dari budisansblog.blogspot.com.





Demikianlah Artikel ASPEK PENTING YANG MENDASARI DIBERLAKUKANNYA KURIKULUM 2013

Sekianlah artikel ASPEK PENTING YANG MENDASARI DIBERLAKUKANNYA KURIKULUM 2013 kali ini, mudah-mudahan bisa memberi manfaat untuk anda semua. baiklah, sampai jumpa di postingan artikel lainnya.Jika berkenan Mungkin Kalian Dapat Membagikan Postingan Kami 😊


Anda sekarang membaca artikel ASPEK PENTING YANG MENDASARI DIBERLAKUKANNYA KURIKULUM 2013 dengan alamat link https://www.bleedblackandgold.com/2019/02/aspek-penting-yang-mendasari.html
Lebih baru Lebih lama