LATIHAN MENDESKRIPSIKAN ALUR NOVEL LAYAR TERKEMBANG UNTUK SISWA

Daftar Isi [Tampilkan]

LATIHAN MENDESKRIPSIKAN ALUR NOVEL LAYAR TERKEMBANG UNTUK SISWA - Hallo sahabat BlackandGold, Pada Artikel yang anda baca kali ini dengan judul LATIHAN MENDESKRIPSIKAN ALUR NOVEL LAYAR TERKEMBANG UNTUK SISWA, kami telah mempersiapkan artikel ini dengan baik untuk anda baca dan ambil informasi didalamnya. mudah-mudahan isi postingan Artikel TentangBahan Belajar, Artikel TentangBahan Kesetaraan, Artikel TentangKesenian, Artikel TentangMateri Pelajaran, Artikel TentangPembelajaran, yang kami tulis ini dapat anda dipahami. baiklah, selamat membaca.



#: LATIHAN MENDESKRIPSIKAN ALUR NOVEL LAYAR TERKEMBANG UNTUK SISWA
#: LATIHAN MENDESKRIPSIKAN ALUR NOVEL LAYAR TERKEMBANG UNTUK SISWA

Baca juga

LATIHAN MENDESKRIPSIKAN ALUR NOVEL LAYAR TERKEMBANG UNTUK SISWA

Visiuniversal----Novel sebagai salah satu karya sastra yang menarik, akan lebih terasa keindahan dan esetetikanya ketika kita dengarkan pembacaan novelnya. Novel akan terasa lebih hidup jika kita memutarkannya dalam suatu teknik membaca karya sastra yang baik. Berikut ini dengarkanlah pembacaan ringkasan novel Layar Terkembang karya Sutan Takdir Alisyahbana ini dengan seksama. Cobalah para siswa catat hal-hal yang inti misalnya tokoh, perwatakan, alur, tema dan lain-lain.

Kalian dapat meminta seorang teman yang mampu membacakan ringkasan novel ini. Bacakanlah dengan suara yang jelas dan intonasi yang tepat. Jangan terlalu cepat agar teman anda dapat menyimaknya dengan baik. Pada saat novel dibacakan tutuplah buku anda bacaan anda tersebut.


Mendeskripsikan Alur Novel :


Layar Terkembang


     Yusuf ialah putra Demang Munaf di Martapura di Sumatra Selatan. Telah hampir lima tahun ia belajar pada sekolah Tabib Tinggi. Pada bulan Mei nanti ia akan menempuh ujiah doktoral yang pertama dan kedua. Tempat tinggalnya sejak dari Sekolah Mulo, A.M.S sampai ke sekolah tinggi ini ialah di rumah seorang kerabat Jawa yang diam di Sawah Besar.

     Sejak kembali dari mengantarkan Tuti dan Maria, pikirannya senantiasa berbalik-balik saja kepada mereka berdua. Perkenalan yang sebentar itu meninggalkan jejak yang dalam di kalbunya. Yang seorang agak pendiam dan tertutup rupanya, tetapi segala ucapannya teliti. Yang seorang lagi suka berbicara, lekas tertawa gelisah, penggerak. Alangkah besar beda pekerti mereka berdua beradik itu. Tetapi tidak, yang terutama sekali menarik hati ialah Maria. Mukanya lebih berseri-seri, matanya menyinarkan kegirangan hidup dan bibirnya senantiasa tersenyum menyingkap giginya yang putih.

     Keesokan harinya pagi-pagi sebelum setengah tujuh ia telah siap makan dan berpakaian akan pergi ke sekolah. Diambilnya sepedanya dan sebab tiada usaha tergesa-gesa ia menuju ke arah Molenvliet, Berendrechtslaan. Dalam hatinya ia berharap-harap akan bersua dengan Maria hendak pergi ke sekolah. Di Molenvliet West ia berbelok ke kiri menuju ke Harmonie. Sementara itu dari mulutnya tiada berhenti-henti berkepul-kepul asap sigaretnya. Tiba di hadapan Hotel Des Indes sebenarnya telah dilenyapkan harapan akan bertemu dengan kawan-kawannya sebelum pengajaran mulai, tiba-tiba kedengaran di belakangnya suara yang halus mengatakan, "Selamat pagi."

     Sekejap terperanjat ia mendengar suara itu, lalu berpalinglah ia kebelakang dan nampak kepada nya Maria. Ketika ia membalas tabik itu sekejap hatinya berdebar-debar dan ia agak keragu-raguan.

     "Tak saya sangka akan bertemu pula dengan Zus pagi-pagi ini," katanya mencari perkataan akan menyambung tabiknya. Sementara itu ia memutar sepedanya ke sebelah kiri gadis itu, sedangkan matanya amat tajam mengamat-amatinya, sebab pada pagi itu Maria kelihatan kepadanya lebih cantik, jauh lebih cantik dari di akuarium kemarin. Gaunnya yang putih bersih amat rapat membalut badannya sampai melampaui lututnya sedikit. Kakinya yang agak panjang dan langkai ditutupi kaus sutra yang kuning kemerah-merahan warna sawo, sehingga dari jauh rupanya ia seolah-olah tiada berkaus. Rambutnya yang lebat itu terjalin menjadi dua anyaman yang terbuai-buai di belakangnya, sedangkan di sebelah mukanya mengeriting beberapa helai anak rambut.

     "Saya tiap-tiap pagi lalu jalan ini pergi kesekolah!" jawab Maria seraya tersenyum.

     "Sekolah mulai setengah delapan, langkah lekasnya Zus pergi ke sekolah."

     "Tidak, sekolah kami mulai pukul tujuh lewat seperempat. Lagi pula apa kerja saya di rumah, kalau segalanya sudah selesai? Bukankah lebih senang bergurau-gurau dengan teman-teman di sekolah?"

Sumber: Layar Terkembang. Sutan Takdir Alisyahbana.


Judul : Layar Terkembang Pengarang : Sutan Takdir Alisjahbana (STA) Penerbit : Balai Pustaka Tahun Terbit : 2000 (PS: Pertamakali terbit pada tahun 1936) Tebal : 166 halaman

Judul : Layar Terkembang Pengarang : Sutan Takdir Alisjahbana (STA) Penerbit : Balai Pustaka Tahun Terbit : 2000 (PS: Pertamakali terbit pada tahun 1936) Tebal : 166 halaman


Tahukah Anda yang dimaksud dengan alur? Jika kita membaca cerita tentu kita mengikuti jalan cerita yang dibuat pengarang. Jalan cerita itu ada yang maju, artinya dari awal sampai akhir cerita terus berlanjut dan ada pula alur cerita yang mundur, artinya cerita itu mengisahkan peristiwa yang telah berlalu atau lewat. Coba baca sekali lagi sepenggal cerita Laya Terkembang itu. Apakah alurnya amju atau mundur? Tentu kalian para siswa akan mengatakan bahwa alurnya maju. Coba kita cermati kutipan ini:


Kutipan (1)

Yusuf ialah putra Demang Munaf di Martapura di Sumatra Selatan. Telah hampir lima tahun ia belajar pada sekolah Tabib Tinggi. Pada bulan Mei nanti ia akan menempuh ujiah doktoral yang pertama dan kedua. Tempat tinggalnya sejak dari Sekolah Mulo, A.M.S sampai ke sekolah tinggi ini ialah di rumah seorang kerabat Jawa yang diam di Sawah Besar.

Pada paragraf awal ini diceritakan tentang kehidupan tokoh Yusuf  


Kutipan (2)

Sejak kembali dari mengantarkan Tuti dan Maria, pikirannya senantiasa berbalik-balik saja kepada mereka berdua. Perkenalan yang sebentar itu meninggalkan jejak yang dalam di kalbunya. Yang seorang agak pendiam dan tertutup rupanya, tetapi segala ucapannya teliti. Yang seorang lagi suka berbicara, lekas tertawa gelisah, penggerak. Alangkah besar beda pekerti mereka berdua beradik itu. Tetapi tidak, yang terutama sekali menarik hati ialah Maria. Mukanya lebih berseri-seri, matanya menyinarkan kegirangan hidup dan bibirnya senantiasa tersenyum menyingkap giginya yang putih.

Pada paragraf kedua ini dikisahkan pertemuannya (Yusuf) dengan Tuti dan Maria.


Kutipan (3)

 Keesokan harinya pagi-pagi sebelum setengah tujuh ia telah siap makan dan berpakaian akan pergi ke sekolah. Diambilnya sepedanya dan sebab tiada usaha tergesa-gesa ia menuju ke arah Molenvliet, Berendrechtslaan. Dalam hatinya ia berharap-harap akan bersua dengan Maria hendak pergi ke sekolah. Di Molenvliet West ia berbelok ke kiri menuju ke Harmonie. Sementara itu dari mulutnya tiada berhenti-henti berkepul-kepul asap sigaretnya. Tiba di hadapan Hotel Des Indes sebenarnya telah dilenyapkan harapan akan bertemu dengan kawan-kawannya sebelum pengajaran mulai, tiba-tiba kedengaran di belakangnya suara yang halus mengatakan, "Selamat pagi."

Pada paragraf ketiga ini, Yusuf berharap bertemu dengan Maria

Jadi, dari ketiga paragraf ini dapat digambarkan bahwa alur ceritanya maju, yakni dimulai dari menceritakan kehidupan tokoh Yusuf > berkenalan dengan Maria > ingin bertemu dengan Maria.

Baiklah, untuk mengetahui pemahaman Anda terhadap alur cerita, selesaikanlah latihan berikut!

Latihan

Bacalah kelanjutan kutipan novel ini dan tentukan alurnya dengan pembuktian kalimat!

 Sekejap terperanjat ia mendengar suara itu, lalu berpalinglah ia kebelakang dan nampak kepada nya Maria. Ketika ia membalas tabik itu sekejap hatinya berdebar-debar dan ia agak keragu-raguan.

     "Tak saya sangka akan bertemu pula dengan Zus pagi-pagi ini," katanya mencari perkataan akan menyambung tabiknya. Sementara itu ia memutar sepedanya ke sebelah kiri gadis itu, sedangkan matanya amat tajam mengamat-amatinya, sebab pada pagi itu Maria kelihatan kepadanya lebih cantik, jauh lebih cantik dari di akuarium kemarin. Gaunnya yang putih bersih amat rapat membalut badannya sampai melampaui lututnya sedikit. Kakinya yang agak panjang dan langkai ditutupi kaus sutra yang kuning kemerah-merahan warna sawo, sehingga dari jauh rupanya ia seolah-olah tiada berkaus. Rambutnya yang lebat itu terjalin menjadi dua anyaman yang terbuai-buai di belakangnya, sedangkan di sebelah mukanya mengeriting beberapa helai anak rambut.

     "Saya tiap-tiap pagi lalu jalan ini pergi kesekolah!" jawab Maria seraya tersenyum.

     "Sekolah mulai setengah delapan, langkah lekasnya Zus pergi ke sekolah."

     "Tidak, sekolah kami mulai pukul tujuh lewat seperempat. Lagi pula apa kerja saya di rumah, kalau segalanya sudah selesai? Bukankah lebih senang bergurau-gurau dengan teman-teman di sekolah?"


Tugas 
Bacalah Novel Layar Terkembang karya Sutan Takdir ini secara lengkap. Bandingkanlah hasil lanjutan cerita dengan teks novel asli.
Tuliskan sebagai laporan baca buku!

LAPORAN BACA
Judul
Pengarang
Penerbit
Tema cerita
Tokoh-tokoh
Ringkasan Cerita


Demikianlah bahan belajar dan latihan mendeskripsikan alur novel untuk siswa, semoga bermanfaat untuk para siswa yang ingin belajar membaca novel. Terimakasih sudah berkunjung kembali di blog visiuniversal. Semoga sukses selalu.



Demikianlah Artikel LATIHAN MENDESKRIPSIKAN ALUR NOVEL LAYAR TERKEMBANG UNTUK SISWA

Sekianlah artikel LATIHAN MENDESKRIPSIKAN ALUR NOVEL LAYAR TERKEMBANG UNTUK SISWA kali ini, mudah-mudahan bisa memberi manfaat untuk anda semua. baiklah, sampai jumpa di postingan artikel lainnya.Jika berkenan Mungkin Kalian Dapat Membagikan Postingan Kami 😊


Anda sekarang membaca artikel LATIHAN MENDESKRIPSIKAN ALUR NOVEL LAYAR TERKEMBANG UNTUK SISWA dengan alamat link https://www.bleedblackandgold.com/2021/01/latihan-mendeskripsikan-alur-novel.html
Lebih baru Lebih lama